cnbc indonesia

Bank Mini-Telko Ramai Akuisisi, Apa Sahamnya sudah Kemahalan?

Diskusi jual beli saham Oppo Stocks in Your Hand di Bursa Efek Indonesia, Senin (18/2/2019). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia – Sejumlah perusahaan diketahui melakukan merger dan akuisisi (M&A), mulai dari bank mini (bank dengan modal inti di bawah Rp 6 triliun) hingga sektor telekomunikasi.

Hanya saja, harga saham emiten-emiten yang melakukan M&A dinilai masih mahal alias overvalue dilihat dari rasio harga terhadap nilai buku atau price to book value (PBV).

PBV adalah metode valuasi yang membandingkan nilai buku suatu emiten dengan harga pasarnya. Semakin rendah PBV biasanya perusahaan akan dinilai semakin murah. Secara rule of thumb, PBV akan dianggap murah apabila rasionya berada di bawah angka 1 kali.

Analis PT Samuel Sekuritas Indonesia, Yosua Zisokhi menjelaskan PBV perusahaan-perusahaan yang tengah melakukan M&A dan bank mini memang cukup tinggi, sebab itu perlu bagi investor untuk memperhatikan risk and return dari saham tersebut. Caranya, yakni dengan menghitung kemungkinan pengembalian dan kerugian yang mungkin akan didapatkan.

“Perhatikan risk and return, kemungkinan berapa return dan berapa persen kerugian,” ungkapnya dalam InvesTime CNBC Indonesia, Kamis (23/9/2021).

Dia mengingatkan investor untuk sabar. Harus dilihat dulu dengan akuisisi dan merger yang dilakukan perusahaan, apakah sudah akan terjamin dalam laporan Keuangan nya pada Q3 atau Q4.

“Karena sudah mahal, saya lebih sabar melihat apakah akan tercermin. Kalau kinerja bagus secara valuasi akan turun kan dan kita valuasi ulang,” jelas Yosua.

Yosua juga menjelaskan sikap investor terhadap aksi korporasi ini. Menurutnya membeli saham adalah membeli masa depan yakni prospek kinerja di masa depan, jadi perlu perhatikan beberapa hal.

Pertama adalah apakah merger dan akuisisi berdampak positif atau negatif. Selain itu nilai akuisisinya, apakah pemilik baru membeli saham itu dengan harga diskon di bawah harga pasar atau tidak.

“Bisa saja mengakuisisi nya diskon di bawah harga pasar. kalau di bawah harga pasar otomatis tidak terlalu excited bagi investor. Terlihatnya pembeli baru belinya buka di harga sekarang, itu juga jadi pertimbangan,” jelas dia.

Sementara itu, Yosua melihat aksi merger dan akuisisi di tengah pandemi menjadi sentimen positif jangka panjang. Sebab permodalan para emiten lebih bagus di masa depan, terlebih jika dukungan dari grup di belakang dan tujuannya untuk bisnis berkelanjutan akan tetap bagus.

Aksi korporasi ini menurutnya juga dilihat perusahaan menjadi peluang di tengah pandemi. Dia mencontohkan bank-bank kecil yang diakusisi fintech, yang disebut wajar apalagi bank butuh dana untuk memenuhi persyaratan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Hal yang sama juga terjadi pada perusahaan lain dengan era new economy juga masuk ke Indonesia.

“Bukan karena memang agak terpuruk perusahaan-perusahaan, tapi memang ada prospek ke depannya kolaborasi yang ada, lebih mengembangkan bisnis masing-masing,” jelas Yosua.

Mengacu data BEI, beberapa saham bank dengan PBV tinggi yakni PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA) 19,55 kali, PT Bank Jago Tbk (ARTO) 28 kali, PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) 46,21 kali, dan PT Bank BRI Agroniaga Tbk (AGRO) 12,64 kali.

Content retrieved from: https://www.cnbcindonesia.com/investment/20210924100901-21-278834/bank-mini-telko-ramai-akuisisi-apa-sahamnya-sudah-kemahalan.

Tags: No tags

Comments are closed.