Ilustrasi Obligasi (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) ditutup menguat pada perdagangan Rabu (26/10/2022), menandakan bahwa investor cenderung khawatir dengan sentimen pasar pada hari ini.

Investor akhirnya kembali memburu SBN pada hari ini, setelah beberapa hari mereka melepasnya. Hal ini dapat dilihat dari imbal hasil (yield) yang mengalami kenaikan di seluruh SBN acuan.

 

Melansir data dari Refinitiv, SBN tenor 15 tahun menjadi yang paling besar penurunan yield-nya pada hari ini, yakni melandai 8,8 basis poin (bp) ke posisi 7,667%.

Sementara untuk yield SBN berjatuh tempo 10 tahun yang merupakan SBN acuan (benchmark) negara juga turun 6,4 bp menjadi 7,637% pada perdagangan hari ini.

Yield berlawanan arah dari harga, sehingga turunnya yield menunjukkan harga obligasi yang sedang menguat, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

Sementara itu dari Amerika Serikat (AS), yield obligasi pemerintah (US Treasury) cenderung kembali menurun pada pagi hari ini waktu AS, karena investor menimbang kembali dampak dari sikap agresif bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) terhadap kinerja keuangan emiten dan permintaan masyarakat.

Dilansir dari CNBC International, yield Treasury berjangka pendek yakni tenor 2 tahun turun 1,6 bp menjadi 4,451%. Sedangkan untuk yield Treasury benchmark tenor 10 tahun juga melandai 4,3 bp menjadi 4,067%.

Investor akan mencermati rilis data penjualan rumah baru di AS untuk periode September lalu, yang akan dirilis pada pagi hari ini waktu AS. Pada Agustus lalu, angka tersebut telah mencapai level tertinggi lima bulan terakhir dan berada di atas ekspektasi pasar.

 

Namun, data yang diterbitkan minggu lalu menunjukkan penjualan rumah yang ada telah menurun pada bulan September. Pembicaraan tentang resesi perumahan telah menyebar karena sektor ini sangat sensitif terhadap kenaikan suku bunga.

The Fed secara konsisten menaikkan suku bunga dalam upaya untuk menekan inflasi yang terus-menerus, dengan kenaikan 75 basis poin (bp) lebih lanjut diharapkan akan dilaksanakan pada pertemuan bank sentral berikutnya pada 1 dan 2 November. Beberapa investor khawatir tentang dampaknya.

Oleh karena itu, investor juga akan terus mencermati rilis kinerja keuangan emiten di AS pada kuartal III-2022 dan proyeksi kinerja keuangan emiten AS beberapa kuartal mendatang.

Hal ini karena mereka telah memindai petunjuk tentang prospek ekonomi perusahaan. Adapun perusahaan AS yang akan melaporkan kinerja keuangannya hari ini adalah Meta Platforms dan Coca Cola.

Content retrieved from: https://www.cnbcindonesia.com/market/20221026181306-17-382776/dibayangi-isu-resesi-investor-buru-lagi-sbn.