Direktur PT Ciptadana Asset Management, Herdianto Budiarto

Jakarta, CNBC Indonesia – Investasi di pasar modal banyak macamnya, tidak hanya ada saham, tetapi juga ada reksa dana dan obligasi. Tiga instrumen ini pun memiliki keunggulan dan kelemahannya masing-masing, sesuai dengan risikonya. Semakin tinggi risikonya, maka semakin tinggi pula potensi imbal hasil yang dihasilkan.

Namun di tengah kekhawatiran masyarakat akan kondisi ekonomi dunia saat ini, apakah saat ini menjadi waktu yang pas untuk investasi?

Seperti diketahui, tahun 2023 perlambatan pertumbuhan ekonomi diprediksi akan terjadi secara global. Hal ini dipicu oleh kenaikan suku bunga oleh bank sentral di seluruh dunia, akibat kondisi geopolitik, khususnya perang Rusia-Ukraina. Akibat prediksi itu pula istilah “cash is the king” mulai muncul di masyarakat, sebagai antisipasi adanya potensi krisis di 2023.

Tetapi jangan salah. Manajer investasi justru masih tetap optimis akan kondisi ke depan. Hal ini mengingat kondisi ekonomi Indonesia sangat berbeda jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Kondisi tersebut menjadi pertanda bahwa masyarakat masih memiliki peluang untuk mencari cuan di pasar modal, terutama dalam jangka menengah panjang.

Direktur Ciptadana Asset Management, Herdianto Budiarto mengatakan kondisi Indonesia saat ini memang sudah jauh lebih baik pasca pandemi Covid 19. Ditambah lagi setelah 10 tahun terakhir hingga tahun 2020 sektor komoditas berada pada siklus bawah, dan kini mulai menanjak. Kondisi itu ujarnya bisa dimanfaatkan masyarakat untuk meraih keuntungannya.

“Memang pada 2022 ini kita lebih banyak mendengar berita buruk, hanya saja investasi ini kan bisa dilihat sebagai gelas yang setengah penuh atau setengah kosong,” tegas Herdianto belum lama ini.

 

 

Bicara investasi, Herdianto menyarankan agar jangan mengikuti “mood market” yang diperkirakan akan membingungkan. Menurutnya yang lebih penting adalah melihat aset yang berkualitas dengan likuiditas yang tinggi. Artinya sebelum masuk mencari portofolio investasi pihaknya akan melihat bagaimana kualitas dari asetnya. Setelah itu pihaknya melihat tingkat likuiditasnya.

“Di dalam pengelolaan portofolio, Ciptadana Asset Management lebih cenderung menggunakan pendekatan bottom up dalam pemilihan instrumen investasinya. Contohnya untuk saham, Ciptadana Asset Management cenderung memilih saham yang memiliki value (Value Investing), sementara untuk obligasi selain pertimbangan rating, analisa internal merupakan hal kunci. Sedangkan untuk pemilihan penempatan dana di deposito perbankan didasarkan pada pertimbangan kesehatan bank tersebut. Selain itu pertimbangan yang bersifat umum misalnya memperpendek durasi portofolio obligasi pada saat terjadi ekspektasi peningkatan suku bunga,” jelas Herdianto.

Ciptadana Asset Management sendiri termasuk sebagai pionir perusahaan asset management karena sudah 31 tahun mengelola bisnis pengelolaan investasi, dan pernah merasakan krisis 1998, 2008, sehingga semua pernah dialami. Sehingga tidak heran jika Ciptadana Asset Management meraih dua penghargaan sekaligus dalam CNBC Indonesia Awards 2022 kategori The Best Asset Management.

Penghargaan pertama Ciptadana Asset Management diterima sebagai Best Money Market Fund, untuk produk Cipta Dana Cash. Adapun yang kedua sebagai Most Impressive Equity Fund untuk produk Cipta Saham Unggulan.

 

“Hal ini akan menjadi motivasi bagi kami untuk terus memberikan yang terbaik kepada investor. Juga kami ingin mengucapkan terima kasih kepada investor yang mempercayakan dananya untuk kami kelola” ungkapnya.

Tidak lupa Herdianto juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh karyawan Ciptadana yang sudah bekerja keras sehingga award ini bisa diperoleh.

Menjadi Fund Manager yang terpercaya serta mampu memberikan layanan terbaik dalam mengoptimalkan portofolio investasi para investor menjadi tujuan utama Ciptadana Asset Management dalam industri pasar modal Indonesia.

 

Content retrieved from: https://www.cnbcindonesia.com/market/20221018125804-17-380574/gini-cara-ciptadana-am-tentukan-portofolio-investasi.