KONTAN.CO.ID – TOKYO. Harga minyak mentah menguat pada awal perdagangan hari ini. Penguatan terjadi karena harapan bahwa permintaan bahan bakar meningkat di Amerika Serikat (AS) saat musim mengemudi yang terjadi pada musim panas kian mendekat. 

Harga minyak acuan juga ditopang peluncuran vaksinasi Covid-19 di AS yang semakin cepat. Namun, peningkatan jumlah kasus di negara lain berhasil membatasi kenaikan.

Senin (12/4) pukul 09.45 WIB, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Juni 2021 naik 25 sen, atau 0,4% menjadi US$ 63,20 per barel.

Sementara itu, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Mei 2021 naik 17 sen atau 0,3% ke level US$ 59,49 per barel.

Harga minyak telah berubah sedikit sejak periode perdagangan yang bergejolak yang berakhir dengan pelemahan di pekan lalu. 

“Ketenangan yang meresahkan telah menyelimuti pasar minyak baru-baru ini karena Brent tetap berlabuh di sekitar US$ 63 dan pedagang mengadopsi mentalitas perdagangan wait and see,” kata Stephen Innes, Chief Market Strategist Axi.

Sementara itu di AS, setidaknya sudah ada lebih dari 70 juta orang di vaksin Covid-19. Sokongan bagi harga minyak bertambah karena jumlah infeksi baru di Eropa turun saat penguncian diberlakukan. Nmaun, India melaporkan rekor kasus baru dan bagian lain di Asia mengalami peningkatan beban kasus ;agi.

Itu kemungkinan akan terus “menodai prospek perjalanan global” dan menjaga harga tetap terikat saat musim panas mendekat, kata Innes.

Ekonomi AS dianggap berada pada “titik perubahan” di tengah ekspektasi bahwa pertumbuhan dan perekrutan akan meningkat dalam beberapa bulan mendatang. Namun, Ketua Federal reserve Jerome Powell menggarisbawahi bahwa AS juga menghadapi risiko pembukaan kembali terlalu cepat dan memicu kebangkitan kembali kasus virus corona. 

“Benar-benar ada risiko di luar sana. Dan yang paling utama adalah kami akan membuka kembali terlalu cepat, orang akan terlalu cepat kembali ke praktik lama mereka, dan kami akan melihat lonjakan kasus lain,” kata Powell dalam wawancara di CBS

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,78% ke level 6.199,65 pada perdagangan Selasa (9/3). Pergerakan IHSG tertekan oleh sektor pertambangan yang turun 1,51% dan sektor infrastruktur yang terkoreksi 1.20%.

Analis Artha Sekuritas Indonesia Dennies Christopher mengatakan, IHSG melemah meskipun bursa Asia ditutup menguat. “Pergerakan dibayangi kekhawatiran akan yield obligasi AS dan minimnya sentimen dari dalam negeri,” ujar Dennies dalam riset, Selasa (9/3).

Secara teknikal, indikator stochastic mulai menyempit mendekati area oversold mengindikasikan tren pelemahan mulai terbatas. Dennies memprediksi IHSG akan bergerak menguat dengan resistance 2 di level 6.311, resistance 1 di 6.255, support 1 di 6.155, dan support 2 di level 6.111 pada perdagangan Rabu (10/3).

Menurut dia, pergerakan masih dibayangi optimisme dari kesepakatan stimulus Amerika Serikat. Sementara dari dalam negeri masih minim akan sentimen dan data ekonomi.

Di lain sisi, Analis Sucor Sekuritas Hendriko Gani memproyeksi IHSG berpotensi bergerak mixed dengan kecenderungan melemah dengan support pada 6.141 dan resistance di 6.250 pada perdagangan Rabu (10/3). Dia menyarankan pelaku pasar untuk dapat kembali melakukan buy on weakness pada saham-saham berfundamental baik yang terkoreksi.