CNBC dot com

IHSG Ambyar Setelah Lebaran Lumrah, Tapi Tahun Ini Terburuk

Suasana Bursa Efek Indonesia (BEI). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia – Pasar modal Indonesia masih dalam turbulen dan belum pernah ditutup menguat pasca libur panjang lebaran tahun ini. Kinerja ini merupakan yang terburuk untuk sepekan pasca lebaran, setidaknya dalam lima tahun terakhir.

Hingga penutupan perdagangan kemarin IHSG secara kumulatif sudah terkoreksi 8,72% dari harga penutupan perdagangan terakhir sebelum libur panjang, 28 April 2022 lalu. Tekanan ini kemungkinan akan semakin dalam, mengingat pagi ini IHSG kembali dibuka dan masih bergerak di zona merah.

Dalam lima tahun terakhir, kinerja IHSG lima hari pertama pasca lebaran cukup bervariasi, dengan tiga di antaranya melemah, termasuk tahun ini. Sedangkan dua lainnya ketika pasar malah menguat terjadi pada 2020 dan 2019.

Secara spesifik lebaran 2020 jatuh pada minggu terakhir bulan Mei dan dalam lima hari pasca pasar dibuka, secara total IHSG menguat hingga 8,16%. Sebagai catatan dua bulan sebelumnya pasar sempat tertekan dalam merespons awal mewabahnya pandemi covid-19.

Sementara itu, tahun 2019 secara kumulatif dalam lima hari pasca pasar dibuka, IHSG juga menguat. Namun penguatannya tipis saja atau hanya sebesar 0,66%

Selain tahun ini yang mana IHSG ambles sangat dalam, tahun 2021 dan 2018 lalu, IHSG juga mengalami pelemahan masing-masing sebesar 2,78% dan 5,44%.

Walupun telah terkoreksi cukup dalam, tampaknya tekanan jual masih kuat dengan sentimen negatif juga masih melekat, sehingga bisa jadi sulit bagi pasar untuk mengalami recovery dalam waktu singkat dan mendorong pasar keuangan memasuki periode bearish.

Meski demikian pelemahan ini tidak hanya spesifik terjadi di pasar modal domestik, melainkan juga ikut menyerang bursa global termasuk di kawan Asia lainnya hingga Wall Street.

Senada, kelas aset lain juga ikut mengalami depresiasi, seperti yang terjadi pada aset kripto yang dalam beberapa hari terakhir mengalami koreksi harga yang cukup dalam.

Kondisi pasar keuangan yang suboptimal ini salah satunya diakibatkan oleh pasar yang mulai ‘berjalan beriringan’ dengan lingkungan suku bunga tinggi yang mulai diterapkan berbagai bank sentral utama dunia untuk menjinakkan inflasi yang meroket. Awal bulan ini The Fed telah menaikkan suku bunga acuannya sebesar 50 bps, paling agresif sejak tahun 2000, dengan Bank Indonesia diperkirakan akan segera menaikkan suku bunga acuannya.

Beberapa sentimen eksternal penting lainnya yang wajib dicermati investor termasuk konflik Rusia dan Ukraina yang belum mencapai titik temu dan pasar komoditas juga bergerak dengan volatilitas tinggi. Pergerakan harga minyak dengan fluktuasi yang tinggi mencerminkan risiko bagi ekonomi dan pasar keuangan.

Content retrieved from: https://www.cnbcindonesia.com/market/20220513105317-17-338753/ihsg-ambyar-setelah-lebaran-lumrah-tapi-tahun-ini-terburuk.

Tags: No tags