US Treasury, Bond, Obligasi (Ilustrasi Obligasi)

Jakarta, CNBCIndonesia – Harga obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) kembali ditutup menguat pada perdagangan Rabu (23/11/2022), menandakan bahwa investor semakin tertarik dengan obligasi pemerintah RI.

Investor ramai memburu SBN pada hari ini, ditandai dengan turunnya imbal hasil (yield) di seluruh tenor SBN acuan.

Melansir data dari Refinitiv, SBN tenor 5 tahun menjadi yang paling besar penurunan yield-nya pada hari ini, yakni merosot 16,5 basis poin (bp) ke posisi 6,559%.

Sedangkan, SBN berjangka waktu 30 tahun menjadi yang paling kecil penurunan yield-nya, yakni turun 4,6 bp menjadi 7,462%.

Sementara untuk yield SBN berjatuh tempo 10 tahun yang merupakan SBN acuan (benchmark) kembali menurun 8,3 bp menjadi 6,946%.

Yield berlawanan arah dari harga, sehingga turunnya yield menunjukkan harga obligasi yang sedang menguat, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

Penurunan yield SBN sudah terjadi dalam beberapa hari terakhir, menandakan bahwa investor baik lokal maupun asing semakin tertarik dengan pasar obligasi pemerintah RI.

Padahal beberapa bulan sebelumnya, mereka cenderung melepasnya dan membuat yield SBN menyentuh kisaran 7%. Kini, sebagian besar sudah berada di kisaran 6%.

Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementarian Keuangan RI, sepanjang bulan ini hingga 21 November, investor asing melakukan pembelian SBN di pasar sekunder senilai Rp 10 triliun. Porsi kepemilikan asing pun meningkat menjadi Rp 723,33 triliun.

Alhasil hal ini menjadi sentimen positif bagi SBN itu sendiri dan tentu sejatinya menjadi sentimen positif bagi rupiah.

Sementara itu dari Amerika Serikat (AS), yield obligasi pemerintah (US Treasury) cenderung bervariasi pada pagi hari ini waktu AS, karena investor terus memantau komentar para pejabat bank sentral AS (Federal Reserve AS/The Fed) dan menanti risalah The Fed yang dapat memberikan petunjuk tentang kebijakan moneter di masa depan.

Dilansir dari CNBC International, yield Treasury berjangka pendek yakni tenor 2 tahun naik 1,4 bp ke posisi 4,531%. Namun untuk yield Treasury benchmark tenor 10 tahun turun tipis 0,2 bp menjadi 3,756%.

Investor di AS berharap untuk mendapatkan wawasan lebih lanjut tentang apakah The Fed akan memperlambat kenaikan suku bunga dan apa yang diperlukan agar mereka berhenti sepenuhnya ketika risalah pertemuan November bank sentral dirilis pada hari ini.

Investor juga masih memantau komentar para pejabat The Fed tentang arah kebijakan suku bunga di masa depan.

Berbicara pada konferensi yang diselenggarakan oleh Bank Sentral Chili pada Selasa kemarin, Presiden The Fed Kansas City, Esther George mengatakan bahwa suku bunga mungkin masih harus naik karena The Fed bekerja untuk menurunkan inflasi dan membatasi permintaan konsumen.

Namun, pejabat lainnya seperti Presiden The Fed Cleveland, Loretta Mester telah mengatakan bahwa data inflasi baru-baru ini menjanjikan dan dia akan mendukung pengurangan kenaikan suku bunga ke depan.

Hal ini menandakan bahwa pejabat The Fed masih belum satu suara dan menyebabkan pasar kembali dihadapkan kebingungan karena The Fed seakan masih terbelah.

Namun, pasar masih memprediksi bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga acuannya pada pertemuan edisi Desember. Tetapi, laju kenaikannya mungkin akan menurun.

Berdasarkan perangkat FedWatch milik CME Group, probabilitas suku bunga naik 50 basis poin (bp) menjadi 4,25% – 4,5% pada Desember kini sebesar 80,6%, sementara naik 25 bp menjadi 4,5% – 4,75% sebesar 19,4%.

 

Content retrieved from: https://www.cnbcindonesia.com/market/20221123180848-17-390612/investor-makin-tertarik-dengan-sbn-ri-yieldnya-melandai-lagi.