CNBC dot com

Mata Uang Asia Rontok, Rupiah Jadi Yang Terburuk?

Ilustrasi Rupiah dan Dollar di teller Bank Mandiri, Jakarta, Senin (07/5). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih melemah. Rupiah melemah 0,32 % dibandingkan penutupan akhir pekan lalu. Harga jual dolar AS di bank Mandiri Rp. 14.043. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (18/4/2022). Semua mata uang Asia rontok melawan dolar AS hari ini, tetapi pelemahan rupiah termasuk salah satu yang paling kecil. Pertumbuhan ekonomi China yang lebih tinggi dari ekspektasi cukup mengangkat sentimen pelaku pasar, sementara dari dalam negeri neraca perdagangan terus melanjutkan tren positif.

Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan dengan melemah 0,12% ke Rp 14.360/US$. Setelahnya pelemahan rupiah terus terpangkas hingga nyaris stagnan di Rp 14.345/US$. Di penutupan perdagangan rupiah berada di Rp Rp 14.353/US$, melemah 0,07% di pasar spot.

Dibandingkan mata uang Asia lainnya, pelemahan rupiah tersebut menjadi yang terkecil ketiga. Hanya kalah yuan China dan rupee India yang pelemahannya lebih rendah.

Berikut pergerakan dolar AS melawan mata uang utama Asia hingga pukul 16:07 WIB.

Pemerintah China hari ini merilis data pertumbuhan ekonomi yang menunjukkan pelambatan yang signifikan. Produk domestik bruto (PDB) kuartal I-2022 dilaporkan tumbuh 4,8%. Kenaikan tersebut lebih tinggi dari ekspektasi pelaku pasar 4,4%.

Pertumbuhan yang lebih tinggi dari ekspektasi tersebut membuat pelaku pasar lega China masih bisa mempertahankan momentum pemulihan ekonominya meski kembali menerapkan lockdown di beberapa wilayah.

China merupakan pasar ekspor utama Indonesia. Ekspansi perekonomianya tentunya bisa mempertahankan hingga meningkatkan permintaan komoditas Indonesia.
Permintaan komoditas tersebut membuat neraca perdagangan Indonesia terus mencetak surplus.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai impor Indonesia bulan lalu adalah US$ 21,97 miliar. Tumbuh 32,02% dibandingkan Februari 2022 (month-to-month/mtm) dan 30,85% dibandingkan Maret 2021 (year-on-year/yoy).

Sebelumnya, BPS mengungkapkan nilai ekspor Maret 2022 adalah US$ 26,5 miliar. Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia membukukan surplus US$ 4,53 miliar.

Surplus ini adalah yang ketiga terbesar sepanjang sejarah Indonesia merdeka. Hanya kalah dari Oktober 2021 (US$ 5,74 miliar) dan Agustus 2021 (US$ 4,75 miliar).

Indonesia sudah membukukan surplus neraca perdagangan sejak April 2020, atau selama 23 bulan terakhir. Ini baru kali pertama terjadi di era pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Rekor surplus perdagangan tanpa putus kali terakhir terjadi pada Agustus 2008-Juni 2010 yang juga berlangsung selama 23 bulan. Kala itu Indonesia masih dipimpin oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Neraca perdagangan yang terus mengalami surplus membantu transaksi berjalan (current account) Indonesia mampu membukukan surplus di tahun 2021.

Surplus transaksi berjalan tersebut menjadi kunci stabilnya rupiah, bahkan bisa menguat sebab mencerminkan arus devisa yang bertahan lama di dalam negeri, tidak seperti transaksi modal dan finansial yang gampang datang dan pergi.

Untuk saat ini, transaksi modal dan finansial masih mencatat kinerja apik, khususnya di pasar saham. Data pasar menunjukkan sepanjang pekan lalu investor asing melakukan beli bersih sekitar Rp 5,3 triliun, dan sepanjang tahun ini lebih dari Rp 41 triliun.

Meski demikian, kabar baik dari luar dan dalam negeri tersebut masih belum mampu mendorong penguatan rupiah. Dolar AS masih perkasa, indeksnya terus menanjak hingga sore ini naik lagi 0,4% ke 100,727 yang merupakan level tertinggi dalam dua tahun terakhir.

Dolar AS masih ditopang oleh ekspektasi bank sentral AS (The Fed) akan menaikkan suku bunga 50 basis poin pada bulan Mei dan Juni.

TIM RISET CNBC INDONESIA 

[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)

Content retrieved from: https://www.cnbcindonesia.com/market/20220418145749-17-332488/mata-uang-asia-rontok-rupiah-jadi-yang-terburuk.

Tags: No tags