CNBC dot com

Perang Rusia-Ukraina, Picu Bangkitkan ‘Hantu’ Inflasi di RI

Petugas pemadam kebakaran bekerja di tempat kejadian setelah rudal menghantam sebuah gedung, di tengah invasi Rusia ke Ukraina, di Bandara Internasional Havryshivka Vinnytsia, di Vinnytsia, Ukraina, Minggu (6/3/2022). (Tangkapan Layar video State Emergency Service of Ukraine/Handout via REUTERS)

Jakarta, CNBC Indonesia – Rusia dan Ukraina merupakan dua dari banyak negara yang menjadi mitra dagang Indonesia. Nilai ekspor Indonesia ke Rusia dan Ukraina masing-masing US$ 1,49 miliar dan US$ 416,99 juta sepanjang tahun lalu.

Dus, jika ditotal, nilai ekspor keduanya mencapai US$ 1,91 miliar. Namun, angka ini relatif kecil, hanya dibanding total ekspor Indonesia ke seluruh mitra dagang di dunia.

Jika ada skenario terburuk keran ekspor kedua negara terhenti, Indonesia hanya kehilangan sekitar 0,83% nilai ekspornya. Nilai ini relatif kecil.

Namun, yang menjadi masalah adalah, dampak tidak langsung dari konflik kedua negara tersebut. Berdasarkan riset BNI Sekuritas, inflasi menjadi momok yang bisa saja menghampiri akibat perang Rusia-Ukraina.

Seperti diketahui, Rusia merupakan salah satu negara eksportir minyak terbesar. Pada saat yang bersamaan, Indonesia juga merupakan negara dengan net impor minya tertinggi.

Dengan kata lain, harga minyak sensitif dengan keadaan perang Rusia. Setiap kenaikan harga minyak US$ 10 per barel, maka kenaikan ini ditranslasikan dengan kenaikan inflasi sebesar 40 basis poin (bps).

Moody’s bahkan sebelumnya menghitung, jika skenario terburuk konflik Rusia-Ukraina terjadi berkepanjangan, maka harga minyak dunia bisa bertahan di atas US$140 per barel hingga 2024.

Andai konflik terjadi dengan skenario yang lebih singkat pun kenaikan harga minyak bisa bertahan hingga 2023. Namun, kenaikannya masih terbatas melebihi US$100 per barel dan tidak melewati level US$120 per barel.

Meski begitu, kedua skenario harga tersebut masih jauh lebih tinggi dari perkiraan harga minyak jika tidak ada perang, di kisaran US$60 per barel hingga US$80 per barel.

Sayangnya, menurut riset BRI Danareksa Sekuritas, Jumat (4/3/2022), Indonesia tidak bisa menikmati kenaikan harga komoditas minyak. Wajar saja, alih-alih eksportir, Indonesia justru merupakan net importir minyak.

Beruntung, pada komoditas energi lain Indonesia merupakan net eksportir dengan nilai ekspor komoditas energi lain yang lebih besar dari
import minyak sehingga net ekspor komoditas non minyak masih mengalami surplus.

[Gambas:Video CNBC]

(dhf/dhf)

Content retrieved from: https://www.cnbcindonesia.com/market/20220307111919-17-320528/perang-rusia-ukraina-picu-bangkitkan-hantu-inflasi-di-ri.

Tags: No tags