Reporter: Sugeng Adji Soenarso | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID –┬áJAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan mulai mendaki pada akhir Mei 2022. Namun, saham-saham berkapitalisasi pasar besar alias big cap mendominasi daftar laggard (pemberat).

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) per Senin (30/5) memperlihatkan sepuluh teratas laggard IHSG. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

Lalu PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI). Lalu, saham PT Bank Jago Tbk (ARTO), PT Astra International Tbk (ASII), PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI), PT Bukalapak.com Tbk (BUKA), dan PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO).

Vice President Infovesta Utama Wawan Hendrayana melihat penyebab saham-saham tersebut tertinggal lantaran adanya kekhawatiran pasar. Pertama, kenaikan suku bunga yang mendorong pasar berekspektasi Bank Indonesia juga akan meningkatkan suku bunga. Kedua, ketidakpastian kondisi pandemi pasca mudik apakah kasus naik.

Walau begitu, dia menilai saham-saham tersebut saat ini sudah price in untuk kenaikan suku bunga. Selain itu PPKM juga tetap terkendali.

Dia juga melihat sudah ada rebound walau kemungkinan belum akan kembali ke level April. Namun, dirinya percaya IHSG berpotensi ke 7.500 tahun ini dengan saham perbankan akan menjadi penggerak utama. “Akan kembali naik, terutama di kuartal IV,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Senin (30/5).

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menambahkan, sejauh ini sentimen yang positif dari dalam negeri. Juga ditambah dengan keyakinan Bank Indonesia dan pemerintah dalam memandang kekuatan fundamental Indonesia sehingga dilihatnya pasar masih akan mampu bertahan dalam menghadapi ketidakpastian.

“Oleh sebab itu, selama sentimennya positif kami melihat ada ruang yang cukup besar bagi saham-saham tersebut untuk mengalami kenaikan. Apalagi secara valuasi perusahan perusahaan tersebut berpotensi mengalami peningkatan,” katanya.

 

Kedua analis sepakat, walaupun akan naik tetapi akan dalam jangka waktu menengah dan panjang mengacu pada prospek perusahaan-perusahaan tersebut. Sebab, saham-saham yang masih tertinggal itu masuk ke sektor perbankan telekomunikasi yang prospeknya akan didorong dari pemulihan ekonomi dan dibukanya aktivitas masyarakat.

Untuk komoditas, Nico juga melihat masih positif prospeknya. Akan tetapi, dia juga menyarankan untuk memperhatikan situasi dan kondisi global, serta kebijakan dari pemerintah karena mampu memberikan sentimen terhadap sektor tersebut.

Reporter: Sugeng Adji Soenarso
Editor: Tendi Mahadi

<!–

REKOMENDASI SAHAM

–>

Content retrieved from: https://investasi.kontan.co.id/news/saham-big-cap-mendominasi-daftar-laggard-begini-rekomendasi-saham-dari-analis.