CNBC dot com

Shanghai Lockdown, Bursa Sahamnya Menggila Naik 2%

Petugas polisi dengan pakaian pelindung berjaga-jaga di pintu masuk terowongan yang mengarah ke daerah Pudong di seberang sungai Huangpu, saat penguncian atau lockdown secara bertahap akibat penyebaran Covid-19 di Shanghai, China, Minggu (28/3/2022) (REUTERS/Aly Song)

Jakarta, CNBC Indonesia – Mayoritas bursa Asia-Pasifik ditutup di zona hijau pada perdagangan Rabu (30/3/2022), di tengah makin mencuatnya prospek damai dari konflik Rusia-Ukraina.

Indeks Shanghai Composite China memimpin penguatan bursa Asia-Pasifik pada hari ini, di mana Shanghai ditutup melonjak nyaris 2%, atau lebih tepatnya melonjak 1,96% ke level 3.266,6.

Kota Shanghai, China kini dikunci alias lockdown akibat lonjakan kasus covid-19. Bagaimana dampaknya terhadap perekonomian Indonesia?
Dampak pertama yang ditimbulkan adalah perdagangan ekspor impor. Shanghai merupakan salah satu pusat bisnis di China, di mana Indonesia sering mengimpor produk dari kota tersebut.

“Dampak langsung sepertinya akan menghambat mata rantai pasokan untuk barang barang export berbasis manufaktur, dan sedikit banyak juga berdampak pada inflasi. Ini apabila lockdown tersebut sifatnya berkepanjangan, tetapi saat ini diperkirakan kurang dari 2 minggu full city testing bisa rampung,” ujar Ekonom UOB Enrico Tanuwidjaja kepada CNBC Indonesia, Rabu (30/3/2022).

Sedangkan indeks Hang Seng Hong Kong menjadi runner up bursa Asia-Pasifik pada hari ini, yakni melompat 1,39% ke level 22.232,029.

Sementara, bursa Asia-Pasifik lainnya juga terpantau cerah pada hari ini. Indeks Straits Times Singapura ditutup menguat 0,25% ke 3.442,61, KOSPI Korea Selatan bertambah 0,21% ke 2.746,74, ASX 200 Australia terapresiasi 0,67% ke 7.514,5, dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir tumbuh 0,59% ke posisi 7.053,19.

Namun, indeks Nikkei Jepang ditutup merosot 0,8% ke level 28.027,25 pada perdagangan hari ini.

Dari Hong Kong, saham unit kendaraan listrik dari pengembang Evergrande ambles 10,8%, di mana pada hari ini saham tersebut kembali diperdagangkan setelah disuspensi sejak 18 Maret lalu.

Sementara itu, induknya yakni saham China Evergrande masih disuspensi oleh otoritas bursa setempat hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Sementara itu dari Jepang, data penjualan ritel periode Februari 2022 dilaporkan turun dan menjadi penurunan pertama dalam lima bulan terakhir, karena masih terdampak dari pandemi virus corona (Covid-19).

Penjualan ritel Negeri Sakura pada bulan lalu turun 0,8% secara tahunan (year-on-year/YoY), dari periode yang sama tahun 2021 sebesar 1,1%. Angka ini juga jauh lebih rendah dari perkiraan pasar yang memperkirakan penurunan 0,3%.

Sentimen positif datang dari negosiasi antara pejabat Rusia dan Ukraina di Turki kemarin, di mana Menteri Pertahanan Rusia mengklaim akan menurunkan jumlah pasukan di sekitar ibu kota Ukraina.

Alexander Fomin, pejabat Rusia yang menghadiri diskusi damai di Istanbul mengatakan bahwa Rusia akan menurunkan jumlah pasukannya di dekat Kyiv dan Chernihiv agar pembicaraan damai dapat berlangsung.

Sebelumnya, Rusia juga mengklaim akan menurunkan pasukan di beberapa lokasi di Ukraina, tapi kemudian tetap menambah pasukan.

Namun, muncul keraguan terkait damai di antara Rusia dan Ukraina, dan sementara waktu militer Rusia telah mulai memindahkan beberapa pasukannya di Ukraina dari sekitar Kyiv ke posisi lain. Sekretaris Pers Pentagon, John Kirby memperingatkan bahwa pergerakan tersebut bukan berarti mundur.

Sementara itu, harga minyak mentah acuan AS West Texas Intermediate (WTI) merosot lebih dari 4% ke US$ 100/barel.

Content retrieved from: https://www.cnbcindonesia.com/market/20220330163123-17-327360/shanghai-lockdown-bursa-sahamnya-menggila-naik-2.

Tags: No tags