Karyawan melintas di samping layar elektronik yang menunjukkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (11/10/2022). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia – Sudah tiga hari beruntun bursa saham domestik diterpa tekanan koreksi sejak akhir pekan lalu. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah pada perdagangan kemarin, Selasa (11/10/2022). IHSG drop 0,79% di 6.939,15.

Sudah dua hari beruntun IHSG ditutup di bawah level psikologis 7.000. Mayoritas saham juga mengalami koreksi. Statistik perdagangan mencatat ada 340 saham yang mengalami penurunan, 190 saham menguat dan 164 saham stagnan.

Kendati IHSG terkoreksi cukup dalam, tetapi kinerjanya masih lebih baik dari indeks Nikkei dan Hang Seng yang melemah lebih dari 2%. Indeks saham Wall Street juga belum menunjukkan tanda-tanda rebound berarti di tengah ancaman resesi yang juga dibarengi dengan kebijakan moneter hawkish oleh bank sentralnya (the Fed).

Setelah tertekan cukup dalam beberapa hari terakhir, mampukah IHSG rebound hari ini?

Analisis Teknikal

TeknikalFoto: Teknikal
Teknikal

Pergerakan IHSG dianalisis berdasarkan periode waktu harian (daily) dan menggunakan indikator Boillinger Band (BB) untuk menentukan area batas atas (resistance) dan batas bawah (support).

Jika melihat level penutupan IHSG dan indikator BB kemarin, indeks masih bergerak menuju batas bawah BB terdekat di 6.925.

Pergerakan IHSG juga dilihat dengan indikator teknikal lain yaitu Relative Strength Index (RSI) yang mengukur momentum.

Perlu diketahui, RSI merupakan indikator momentum yang membandingkan antara besaran kenaikan dan penurunan harga terkini dalam suatu periode waktu.

Indikator RSI berfungsi untuk mendeteksi kondisi jenuh beli (overbought) di atas level 70-80 dan jenuh jual (oversold) di bawah level 30-20.

Posisi RSI turun ke 31,82 dari sebelumnya 36,08 mengindikasikan penguatan momentum jual seiring dengan aksi jual asing di pasar reguler kemarin. Indikator RSI menunjukkan bahwa IHSG semakin mendekati area jenuh jual.

Dilihat dari indikator lain yaitu Moving Average Convergence Divergence (MACD), garis EMA 12 tampak masih di bawah garis EMA 26 dan bar histogram bergerak di area negatif.

Melihat berbagai indikator teknikal yang ada, IHSG memang masih berpeluang untuk terkoreksi. Setidaknya IHSG perlu menguji level 6.925 sebagai support terdekat dan resisten ada di 7.000.

Content retrieved from: https://www.cnbcindonesia.com/market/20221011220013-17-378985/sisi-teknikal-sih-jenuh-jual-tapi-ihsg-bisa-rebound-nggak-ya.