Bisnis.com, JAKARTA – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan bahwa suku bunga acuan yang berada di level terendah sepanjang sejarah belum dibarengi dengan penurunan bunga kredit perbankan.

Padahal kondisi saat ini sangat mendukung perbaikan ekonomi, dimana inflasi dan likuiditas sudah rendah.

Melihat kondisi ini, Kementerian Keuangan dan kabinet akan fokus mendorong penyaluran kredit.

“Untuk mengalirkan kredit melalui berbagai program penjaminan sehingga bank tidak ragu memberi pinjaman dan perusahaan tidak ragu dalam meminjam,” kata Sri Mulyani pada diskusi virtual, Kamis (25/3/2021).

Sri Mulyani menjelaskan bahwa akan ada peraturan menteri keuangan yang disempurnakan. Dia mengaku pihaknya akan melihat kebutuhan industri yang berbeda-beda.

Harapannya setelah akses kredit bergeliat, roda ekonomi bisa berputar. Dengan begitu, target pertumbuhan ekonomi di rentan 4,5 persen sampai 5,3 persen bisa tercapai.

“Karena APBN jadi pendorong ekonomi yang dominan. Tentu hal ini tidak bisa selamanya,” jelasnya. Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) menilai penurunan suku bunga kredit perbankan perlu terus didorong.

Suku bunga dasar kredit tertinggi berdasarkan catatan BI hingga Januari sebesar 10,80 persen pada bank-bank BUMN. Padahal, suku bunga acuan dipertahankan pada angka 3,50 persen, suku bunga deposit facility 2,75 persen, dan suku bunga lending facility sebesar 4,25 persen.

“Bank Indonesia mengharapkan bank-bank lain juga dapat mempercepat penurunan suku bunga kredit sebagai upaya bersama untuk mendorong kredit/pembiayaan bagi dunia usaha dan pemulihan ekonomi nasional,” kata Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono.