kontan dot co dot id

Wall Street Anjlok, Nasdaq Mengonfirmasi Kondisi Bearish

Wall Street Anjlok, Nasdaq Mengonfirmasi Kondisi Bearish

Reporter: Wahyu Tri Rahmawati | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Wall Street anjlok pada perdagangan di awal pekan ini dengan Nasdaq Composite mengonfirmasi kondisi bearish. Prospek larangan impor minyak dari Rusia mengirim harga minyak mentah melonjak dan memicu kekhawatiran kenaikan inflasi.

Senin (7/3), Dow Jones Industrial Average merosot 2,37% atau 797,42 poin ke 32.817,38. Indeks S&P 500 melorot 2,95% atau 127,78 poin ke 4.201,09. Sedangkan Composite terjun 3,62% atau 482,48 poin ke 12.830,96.

Nasdaq berakhir turun 20,1% dari rekor penutupan tertinggi 19 November, membenarkan indeks teknologi-berat telah berada di pasar bearish sejak mencapai rekor tertinggi, menurut definisi yang banyak digunakan. Kondisi ini menandai pasar bearish pertama Nasdaq sejak 2020, ketika wabah virus corona menghancurkan ekonomi global.

Dow Jones Industrial Average berakhir turun 10,8% dari rekor penutupan tertinggi 4 Januari, mengkonfirmasikan bahwa itu dalam koreksi. Koreksi dikonfirmasi ketika indeks ditutup 10% atau lebih di bawah level penutupan rekornya.

Harga minyak melonjak ke level tertinggi sejak 2008 karena Amerika Serikat dan sekutu Eropa mempertimbangkan untuk melarang impor minyak Rusia, sebagai tanggapan atas invasi negara itu ke Ukraina. Rusia menyebut kampanye itu sebagai “operasi khusus”. Sementara tampaknya kecil kemungkinan minyak mentah Iran akan kembali dengan cepat ke pasar global.

Indeks sektor energi, kelompok S&P 500 yang menonjol sepanjang tahun ini, adalah satu-satunya sektor yang mencatat kenaikan pada hari Senin. Hingga akhir perdagangan tadi pagi, indeks sektor energi naik 1,6%.

“Kekhawatiran pada minyak telah menyebabkan kekhawatiran pada inflasi yang lebih tinggi dan potensi stagflasi,” kata Mona Mahajan, ahli strategi investasi senior di Edward Jones seperti dikutip Reuters.

Baca Juga: Wall Street Turun 1%, Terseret akan Kecemasan inflasi Saat Minyak Kian Mendidih

Amazon, Microsoft dan Apple berada di antara pemberat teratas S&P 500. Sementara sektor keuangan turun 3,7%. Sektor utilitas, salah satu area defensif pasar saham, naik 1,3%.

Para pejabat Ukraina mengatakan sebuah pabrik roti telah terkena serangan udara Rusia ketika para perunding negara itu berkumpul untuk melakukan pembicaraan dengan para pejabat Rusia setelah putaran sebelumnya yang tidak membawa jeda dalam konflik tersebut.

Saham United Airlines Holdings Inc turun 15% dan Norwegian Cruise Line Holdings turun 11,6%, di antara penurunan luas dalam saham perjalanan dan liburan karena lonjakan harga minyak mengancam akan mengganggu pemulihan yang baru lahir.

 

Pasar saham bergejolak untuk memulai 2022 karena kekhawatiran tentang krisis Rusia-Ukraina telah memperdalam aksi jual yang awalnya dipicu oleh kekhawatiran atas potensi kenaikan suku bunga Fed Funds Rate. Imbal hasil obligasi yang lebih tinggi karena Federal Reserve diperkirakan akan memperketat kebijakan moneter tahun ini untuk melawan inflasi. S&P 500 menandai level penutupan terendah sejak Juni 2021.

“Pasar sudah gelisah tentang siklus kenaikan suku bunga Fed,” kata Burns McKinney, manajer portofolio di NFJ Investment Group. Dia menambahkan gelombang kenaikan suku bunga mungkin berakhir dengan cepat menuju tahap akhir dari siklus pasar.

Investor sedang menunggu laporan harga konsumen AS pada hari Kamis, dengan The Fed secara luas diperkirakan akan menaikkan suku bunga akhir bulan ini untuk memerangi lonjakan inflasi.

Reporter: Wahyu Tri Rahmawati
Editor: Wahyu T.Rahmawati

<!–

WALL STREET

–>

Content retrieved from: https://investasi.kontan.co.id/news/wall-street-anjlok-nasdaq-mengonfirmasi-kondisi-bearish.

Tags: No tags